Waspadai
Pedofilia
Masih segar dalam ingatan kita ketika kasus pedofilia disertai
mutilasi yang dilakukan BAEKUNI alias “BABE,” terkuak.
Terminology pedofilia mencuak kembali ketika
kasus kekerasan pada anak terjadi di Jakarta Internasioal School (JIS), seolah
membuka mata publik, bahwa kebiadaban kepada anak tidak pernah ragu dilakukan
oleh orang dewasa, rasa kasihan dan sayang jelas tidak lagi tampak dalam
perbuatan par pelaku.
cirri-ciri dan tipe pedofilia.
Apa itu pedofilia? Istilah pedofilia diambil
dari bahasa yunani kuno, dari kata pedos berarti anak, dan philia berarti
hasrat. Dalam mitologi yunani, dikisahkan Zeus yang tertarik dengan Ganymade,
pangeran kerajaan Troy. Zeus memilih Ganymade, menjadikannya juru minum
sekaligus kekasih. Richrad Lanyon, psikolog dari Arizona State University,
mengeompokkan pedofilia kedalam tiga tipe, yaitu situasioal molesters,
preference molesters, dan child repists.
Pedofilia tipe situasioal yang masih memiliki
ketertarikan seksual dengan orang dewasa, hanya saja dalam situasi tertentu,
mereka memiliki hasrat, pedofilia dan melakukan tindakan pedofilia sebagi upaya
mengatasi rasa tertentu.
Seorang tergolong sebagai preference molesters
jika, tertarik selera dengan anak-anak saja, kalaupun mereka menikah hanya
untuk menutupi kondisi mereka yang sebenarnya, karena tipe ini umumnya tidak
bertindak sadis terhadap korbannya, mereka cendurung membujuk atau mengajak
anak tanpa kekerasan fisik.
Sedangkan tipe pemerkosa anak atau child
rapists biasanya sangat kasar dan tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik
kepada korban bahkan sampai memerkosa ataupun membunuh korban.
Apa yang membuat seseorang menjadi pedofil?
Factor genetik, pengalama, dan lingkungan serta interaksi antar factor
tersebut, bertanggung jawab atas munculnya pedofilia. Pedofilia sangat mungkin
memiliki pengalaman traumatis, seperti diperkosa laki-laki diasa kecil dulu, demikian
rasa kesal dalam jiwanya, sehingga merubah struktur kepribadiannya.
Trauma sejak kecil, memang berpengaruh dalam
membentuk pribadi seseorang nantinya, tutur Dr. Eunice, memiliki pengalaman
masa kecil yang pahit, menjadikan anak merasa hampa, sedih, putus asa,
sekaligus marah tetapi tidak berdaya. Seiring bertambahnya umur, si anak
berusaha untuk menyimpan sendiri dan tidak menceritakan kepada orang lain,
meski perasaan untuk tetap ada hingga dewasa nantinya.
Dampak dari perubahan yang diterima pelaku
ketika masih kecil akan berdampak ketika dewasa nanti, bahkan bisa menjadi
gangguan jiwa, depresi, sedih yang berkepanjangan, dan tidak berminat melakukan
apa-apa sehari-harinya.
Untuk mengatasi ketidak berdayaan tadi, dia
akan berusaha membalikkan posisinya menjadi yang diatas (pelaku pedofil)
caranya dengan mengendalikan atau menguasai anak-anak dan melakukan perlakuan
yang sama persis seperti apa yang pernah dialaminya dulu.
- Mengenali cirri-ciri pedofilia
Bukan perkara mudah, para pedofilia berpenampilan biasa, Nampak
sama seperti orang normal pada umumnya, sayang dan ramah pada anak-anak bahkan
menurut Dr. Eunice para penderita pedofilia umumna memiliki bidang pekerjaan
yang berdekatan dengan anak-anak, walaupun begitu bukan berarti orang yang
profesinya berdekatan dengan anak adalah seorang pedofilia.
Karena, mengenali seorang pedofilia bukan hal mudah. Menurut Dr.
Elly Rismah Musa, ada empat langkah pencegahan agar buah hati kita terhindar
dari kekerasan seksual.
Pertama, tingkatkan komunikasi dengan anak, pasalnya komunikasi
yang baik dapat membantu anak untuk memiliki kesadaran dan ketajaman perasaan
terhadapa apa yang mungkin terjadi terhadpa diriya, dengan begitu, anak dapat
selalu waspada tetapi tetap harus menggunakan kata-kata sesuai usia, sehingga
anak tidak tegang dan stres.
Kedua, ajarkan anak bahwa diri dan tubuhnya merupakan sesuatu yang
sangat berharga, untuk itu ia harus menjaga dan memeliharaya dengan baik.
Terhadap anak, orang tua bisa menjelaskan bahwa tidak semua orang boleh
menyentuh tubuhnya.
Ketiga, ajarkan anak mengenal jenis-jenis sentuhan dan cara
bereaksi terhadapanya, hal ini memng tidak mudah namun orang tua harus
mengupayakannya. Jenis sentuhan dikategorikan menjadi tiga, yakni, sentuhan
yang boleh (sentuhan berkasih sayang), sentuhan membingungkan (awalnya membelai
kemudia memeluk atau meraba), dan sentuhan jelek (meraba paha, dada, atau
bagian dekat kemaluan).
Keempat, ajarkan anak untuk mempercayai perasaannya. Anak-anak cenderung
memiliki perasaan yang tajam, sehingga dapat mengenali bentuk perlauan orang
lain terhadpanya. Orang tua bisa melatih anak untuk memperhatikan dan
mempercayai perasaan yang dihadapinya bila ia berhadapan dengan orang lain,
bantu anak mengenali rasa menyenangkan, menakutkan atau membingungkan yang
timbul dari perlakuan orang lain terhadap dirinya. Hubungkan perasaan tersebut
dengan sentuhan yang dilakukan orang itu terhadap anak, ajarkan pula cara
menyatakan “Tidak!” atau “Jangan sentuh!” jika ada yang berbuat tidak pantas
padanya, orang tua harus mengajarkan anak bahwa dalam hal tertentu boleh
bersikap kasar terhadap orang dewasa.
Semoga informasi ini
bermanfaat untuk bekal orang tua, agar buah hati kita terjaga dari kekerassan
seksual. (dari beberapa sumber)
