Kamis, 04 Desember 2014



Waspadai Pedofilia
Masih segar dalam ingatan kita ketika kasus pedofilia disertai mutilasi yang dilakukan BAEKUNI alias “BABE,” terkuak.
    Terminology pedofilia mencuak kembali ketika kasus kekerasan pada anak terjadi di Jakarta Internasioal School (JIS), seolah membuka mata publik, bahwa kebiadaban kepada anak tidak pernah ragu dilakukan oleh orang dewasa, rasa kasihan dan sayang jelas tidak lagi tampak dalam perbuatan par pelaku.
cirri-ciri dan tipe pedofilia.
    Apa itu pedofilia? Istilah pedofilia diambil dari bahasa yunani kuno, dari kata pedos berarti anak, dan philia berarti hasrat. Dalam mitologi yunani, dikisahkan Zeus yang tertarik dengan Ganymade, pangeran kerajaan Troy. Zeus memilih Ganymade, menjadikannya juru minum sekaligus kekasih. Richrad Lanyon, psikolog dari Arizona State University, mengeompokkan pedofilia kedalam tiga tipe, yaitu situasioal molesters, preference molesters, dan child repists.
    Pedofilia tipe situasioal yang masih memiliki ketertarikan seksual dengan orang dewasa, hanya saja dalam situasi tertentu, mereka memiliki hasrat, pedofilia dan melakukan tindakan pedofilia sebagi upaya mengatasi rasa tertentu.
    Seorang tergolong sebagai preference molesters jika, tertarik selera dengan anak-anak saja, kalaupun mereka menikah hanya untuk menutupi kondisi mereka yang sebenarnya, karena tipe ini umumnya tidak bertindak sadis terhadap korbannya, mereka cendurung membujuk atau mengajak anak tanpa kekerasan fisik.   
    Sedangkan tipe pemerkosa anak atau child rapists biasanya sangat kasar dan tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik kepada korban bahkan sampai memerkosa ataupun membunuh korban.
    Apa yang membuat seseorang menjadi pedofil? Factor genetik, pengalama, dan lingkungan serta interaksi antar factor tersebut, bertanggung jawab atas munculnya pedofilia. Pedofilia sangat mungkin memiliki pengalaman traumatis, seperti diperkosa laki-laki diasa kecil dulu, demikian rasa kesal dalam jiwanya, sehingga merubah struktur kepribadiannya.
    Trauma sejak kecil, memang berpengaruh dalam membentuk pribadi seseorang nantinya, tutur Dr. Eunice, memiliki pengalaman masa kecil yang pahit, menjadikan anak merasa hampa, sedih, putus asa, sekaligus marah tetapi tidak berdaya. Seiring bertambahnya umur, si anak berusaha untuk menyimpan sendiri dan tidak menceritakan kepada orang lain, meski perasaan untuk tetap ada hingga dewasa nantinya.
    Dampak dari perubahan yang diterima pelaku ketika masih kecil akan berdampak ketika dewasa nanti, bahkan bisa menjadi gangguan jiwa, depresi, sedih yang berkepanjangan, dan tidak berminat melakukan apa-apa sehari-harinya.
    Untuk mengatasi ketidak berdayaan tadi, dia akan berusaha membalikkan posisinya menjadi yang diatas (pelaku pedofil) caranya dengan mengendalikan atau menguasai anak-anak dan melakukan perlakuan yang sama persis seperti apa yang pernah dialaminya dulu.
  • Mengenali cirri-ciri pedofilia
Bukan perkara mudah, para pedofilia berpenampilan biasa, Nampak sama seperti orang normal pada umumnya, sayang dan ramah pada anak-anak bahkan menurut Dr. Eunice para penderita pedofilia umumna memiliki bidang pekerjaan yang berdekatan dengan anak-anak, walaupun begitu bukan berarti orang yang profesinya berdekatan dengan anak adalah seorang pedofilia.
Karena, mengenali seorang pedofilia bukan hal mudah. Menurut Dr. Elly Rismah Musa, ada empat langkah pencegahan agar buah hati kita terhindar dari kekerasan seksual.
Pertama, tingkatkan komunikasi dengan anak, pasalnya komunikasi yang baik dapat membantu anak untuk memiliki kesadaran dan ketajaman perasaan terhadapa apa yang mungkin terjadi terhadpa diriya, dengan begitu, anak dapat selalu waspada tetapi tetap harus menggunakan kata-kata sesuai usia, sehingga anak tidak tegang dan stres.
Kedua, ajarkan anak bahwa diri dan tubuhnya merupakan sesuatu yang sangat berharga, untuk itu ia harus menjaga dan memeliharaya dengan baik. Terhadap anak, orang tua bisa menjelaskan bahwa tidak semua orang boleh menyentuh tubuhnya.
Ketiga, ajarkan anak mengenal jenis-jenis sentuhan dan cara bereaksi terhadapanya, hal ini memng tidak mudah namun orang tua harus mengupayakannya. Jenis sentuhan dikategorikan menjadi tiga, yakni, sentuhan yang boleh (sentuhan berkasih sayang), sentuhan membingungkan (awalnya membelai kemudia memeluk atau meraba), dan sentuhan jelek (meraba paha, dada, atau bagian dekat kemaluan).
Keempat, ajarkan anak untuk mempercayai perasaannya. Anak-anak cenderung memiliki perasaan yang tajam, sehingga dapat mengenali bentuk perlauan orang lain terhadpanya. Orang tua bisa melatih anak untuk memperhatikan dan mempercayai perasaan yang dihadapinya bila ia berhadapan dengan orang lain, bantu anak mengenali rasa menyenangkan, menakutkan atau membingungkan yang timbul dari perlakuan orang lain terhadap dirinya. Hubungkan perasaan tersebut dengan sentuhan yang dilakukan orang itu terhadap anak, ajarkan pula cara menyatakan “Tidak!” atau “Jangan sentuh!” jika ada yang berbuat tidak pantas padanya,  orang tua harus mengajarkan anak bahwa dalam hal tertentu boleh bersikap kasar terhadap orang dewasa.
Semoga informasi ini bermanfaat untuk bekal orang tua, agar buah hati kita terjaga dari kekerassan seksual. (dari beberapa sumber)